Deteksi Stunting Berbasis STEM-IoT untuk Guru IPA
Kata Kunci:
Stunting, Gizi, STEM##submission.synopsis##
Stunting adalah gangguan pertumbuhan kronis yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dari standar usia anak. Kondisi ini sering terjadi pada 1.000 hari pertama kehidupan anak, yang merupakan periode kritis bagi perkembangan fisik dan otak. Stunting tidak hanya mencerminkan masalah gizi, tetapi juga pola asuh yang tidak tepat, sanitasi yang buruk, dan akses layanan kesehatan yang terbatas. Masalah ini sering kali tidak terlihat langsung sehingga dikenal sebagai "silent epidemic." Data di Indonesia menunjukkan prevalensi stunting yang tinggi, meskipun telah menurun dari 27,7% pada 2019 menjadi 21,6% pada 2023. Namun, angka ini masih jauh dari target pemerintah sebesar 14% pada 2024. Penyebab utama stunting meliputi kekurangan mikronutrien penting seperti zat besi dan vitamin A, praktik pemberian ASI yang kurang optimal, serta sanitasi yang buruk.
Dampak stunting sangat luas, termasuk hambatan fisik, kognitif, dan emosional. Anak yang stunting berisiko lebih tinggi mengalami keterbatasan belajar, rendahnya produktivitas, serta penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi di masa dewasa. Masalah ini juga berdampak pada produktivitas tenaga kerja dan daya saing ekonomi negara. Oleh karena itu, pencegahan stunting membutuhkan pendekatan lintas sektor yang melibatkan edukasi masyarakat, perbaikan gizi, dan peningkatan akses layanan kesehatan.
Dalam konteks pendidikan, pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menawarkan solusi inovatif untuk meningkatkan literasi sains dan keterampilan abad ke-21. Pendekatan ini mengintegrasikan empat bidang ilmu untuk memberikan siswa pengalaman belajar yang relevan dan membantu mereka memecahkan masalah dunia nyata. STEM menekankan pentingnya pengamatan fenomena alam, inovasi teknologi, desain sistem yang berkelanjutan, serta analisis matematis untuk pengambilan keputusan. Pendekatan STEM juga dirancang untuk melatih siswa berpikir kritis, kreatif, dan reflektif, serta berkontribusi pada isu-isu global seperti perubahan iklim dan mitigasi bencana.
Berbagai pendekatan dalam pembelajaran STEM mencakup pendekatan silo, tertanam, dan terpadu. Pendekatan silo mengajarkan disiplin STEM secara terpisah, sedangkan pendekatan tertanam menekankan aplikasi pengetahuan dalam konteks dunia nyata. Pendekatan terpadu menggabungkan keempat disiplin STEM dalam satu proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memahami keterkaitan antarbidang ilmu dan menerapkannya secara holistik. Pendekatan terpadu dianggap efektif untuk melatih siswa memecahkan masalah nyata, seperti yang relevan dalam mengatasi stunting.
Sebagai aplikasi nyata dari pendekatan STEM, buku ini memperkenalkan alat deteksi stunting berbasis Internet of Things (IoT). Alat ini dirancang untuk mempermudah pemantauan kondisi anak dan memberikan data yang akurat terkait pertumbuhan mereka. Komponen utama alat ini meliputi ESP32 sebagai mikrokontroler, sensor ultrasonik HC-SR04 untuk mengukur tinggi badan, serta aplikasi berbasis Flutter untuk menampilkan data hasil pengukuran. Proses pembuatan alat melibatkan perakitan hardware, pemrograman menggunakan Arduino IDE, dan pengembangan aplikasi yang memungkinkan pengguna memonitor hasil pengukuran secara real-time.
Cara kerja alat ini dimulai dengan pengukuran tinggi badan menggunakan sensor ultrasonik. Data yang diperoleh dikirimkan ke aplikasi melalui koneksi nirkabel, lalu dibandingkan dengan standar antropometri WHO untuk menentukan apakah anak mengalami stunting. Hasil analisis ini dapat digunakan oleh tenaga medis atau pihak terkait untuk melakukan intervensi dini. Alat ini menunjukkan bagaimana integrasi teknologi modern dengan pendekatan STEM dapat memberikan solusi praktis untuk masalah kesehatan masyarakat.
