SUKACITA MERAWAT BUMI RUMAH KITA BERSAMA
Kata Kunci:
Kerusakan Alam, Pertobatan dan Pembaruan, Laudate Deum, Keprihatinan Global dan Lokal, Gereja Keuskupan Bandung##submission.synopsis##
Sepanjang 2025 umat Katolik Keuskupan Bandung akan memusatkan permenungannya kepada ikhtiar mewujudkan ‘Sukacita Merawat Bumi Rumah Kita Bersama’. Gagasan ini muncul dari sejumlah keprihatinan yang terjadi baik pada tataran mondial, global, maupun lokal terkait tindakan-tindakan menjaga, merawat, dan melestarikan bumi sebagai rumah bersama. Ikhtiar ini sangat mendesak dilaksanakan.
Alasannya, bumi tempat manusia hidup sedang menuju keruntuhan dan mungkin mendekati titik puncaknya. Terlepas dari kemungkinan tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa dampak kerusakan alam semesta akan semakin merugikan kehidupan banyak orang dan keluarga. Manusia merasakan dampaknya di bidang layanan kesehatan, lapangan kerja, akses sumber daya, perumahan, atau migrasi paksa (Laudate Deum 2).
Kendati banyak upaya untuk menyangkal, menyembunyikan, menutup-nutupi, atau merelatifkannya, tanda-tanda kerusakan alam ini semakin nyata. Tidak seorang pun sanggup memungkiri kenyataan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini manusia telah menyaksikan gejala cuaca ekstrem, seringnya periode panas yang tidak normal, kekeringan dan keluhan lainnya dari bumi. Gejala-gejala itu sebenarnya hanyalah beberapa ungkapan nyata dari penyakit diam-diam yang menyerang umat manusia (Laudate Deum 5).
Untuk membantu proses bertobat dan memperbaharui pola hidup yang lebih hijau itu, Gereja Keuskupan Bandung dibantu Rasul Paulus. Secara khusus teks yang digunakan untuk membantu permenungan dan ikhtiar pembaharuan pola hidup yang lebih hijau itu adalah teks Roma 1:18-32 tentang ‘Hukuman Allah atas kefasikan dan kelaliman manusia’.
