Biografi Sunan Gunung Djati

Penulis

admin admin
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Ading Kusdiana
UIN Sunan Gunung Djati Bandung

##submission.synopsis##

Ketertarikan peneliti terhadap “Sunan Gunung Djati” dimulai dari kesadaran historis terhadap institusi tempat peneliti bekerja, UIN Sunan Gunung Djati. Meskipun nama Sunan Gunung Djati sudah lama dilekatkan pada institusi itu, yaitu lebih dari 50 tahun (April 1968-September 2018), kajian-kajian ilmiah akademis terkait tokoh itu belum banyak dilakukan. UIN Sunan Gunung Djati Bandung telah ketinggalan jauh oleh misalnya: J. L. A. Brandes yang telah memiliki perhatian sejak 1911 melalui Eenige Officiele Stukken met Betrekking tot Tjirebon, TBG.37/1894: 449-88 dan Babad Tjerbon, VBG 59, 2. Kedua tulisan Brandes tersebut kemudian dijadikan sumber primer oleh Atja ketika menyusun naskah akademik guna penetapan Hari Jadi Kota Cirebon melalui karyanya Carita Purwaka Caruban Nagari (Sejarah Asal-Usul Negara Cirebon). Sementara Edi S. Ekadjati, sejarawan dari Universitas Padjadjaran, menulis Sunan Gunung Djati dalam rangka pemenuhan tugas dari A. Teeuw, pimpinan Program Penataran Filologi untuk penelitian sejarah ketika menjadi mahasiswa di Leiden Universiteit, Belanda. Babad Tjerbon karya Brandes, kemudian  oleh Ekadjati diberi judul, Babad Cirebon Edisi Brandes: Tinjauan sastra dan Sejarah. Selain Brandes, Atja, dan Ekadjati akademisi yang memberi perhatian kepada Sunan Gunung Djati adalah H.J. De Graaf dan T.H. G. T.H. Pigeaud. Mereka berdua menulis De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java Studien over de Staatkundige Geschiedenis van de 15de en 16de Eeuw. Dalam karyanya, mereka mengetengahkan bab khusus tentang Riwayat Kerajaan-kerajaan di Jawa Barat Abad ke-16: Cirebon. Sejarawan Universitas Padjadjaran lainnya yang dalam beberapa karyanya tidak luput mengetengahkan  Sunan Gunung Djati adalah Nina Herlina Lubis, dkk. Di antara karyanya, sebut saja misalnya, Sejarah Kota-Kota lama di Jawa Barat, Sejarah Tatar Sunda, dan Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat. Dalam buku-buku tersebut, ketika membahas Islamisasi tanah Sunda, Nina dkk., selalu mengaitkan dengan Sunan Gunung Djati.

##submission.downloads##

##catalog.published##

Mei 5, 2020